Hakikat
IPA
IPA adalah suatu singkatan dari kata
“Ilmu Pengetahuan Alam” merupakan terjemahan dari kata “Natural Science” secara singkat sering disebut “Science”. Natural artinya alamiah, berhubungan dengan alam atau bersangkut
paut dengan alam, sedangkan Science
artinya ilmu pengetahuan. Jadi Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) secara harfiah dapat
disebut sebagai ilmu tentang alam ini atau ilmu yang mempelajari
peristiwa-peristiwa yang terjadi di alam.
IPA adalah ilmu yang telah diuji
kebenarannya melalui metode ilmiah. Dengan kata lain, metode ilmiah merupakan
cirri khusus yang menjadi identitas IPA. Pengenalan IPA melalui metodologi atau
cara memperoleh pengetahuan itu. IPA adalah penyelidikan yang terorganisir
untuk mencari pola keteraturan dalam alam.
Oleh karena itu, Ilmu Pengetahuan Alam
sebagai produk tidak dapat dipisahkan dari hakikatnya sebagai proses. Produk
IPA adalah fakta-fakta, konsep-konsep, prinsip-prinsip, hukum-hukum, dan
teori-teori. Prosedur yang dipergunakan oleh para ilmuan mempelajari alam ini
adalah prosedur empirik dan analitik.
Dalam prosedur empirik ilmuan
mengumpulkan informasi, mengorganisasikan informasi untuk selanjutnya
dianalisis. Prosedur empirik, dalam IPA mencakup observasi, klasifikasi, dan
pengukuran. Sedangkan dalam prosedur analitik ilmuan menginterprestasikan
penemuannya dengan mempergunakan proses-proses seperti hipotesa, eksperimen
terkontrol, menarik kesimpulan, dan memprediksi. Untuk menjalankan suatu
penelitian tentang alam diperlukan pengetahuan terpadu tentang proses dan
materi dalam topik yang akan diselidiki. IPA untuk anak Sekolah Dasar harus
dimodifikasi agar anak didik dapat mempelajarinya. Ide-ide dan konsep-konsep
harus disederhanakan sesuai dengan tingkat perkembangan kognitifnya supaya
mudah dipahami.
Webster’a dalam Patta (2006) menyatakan “natural science knowledge concerned with the
physical world and its phenomena”.
Yang artinya
IPA adalah pengetahuan tentang alam dan gejala-gejalanya. Sedangkan Purnell’s
mendefinisikan IPA adalah pengetahuan manusia yang luas yang didapatkan dengan
cara observasi dan eksperimen yang sistematik, serta dijelaskan dengan bantuan
aturan-aturan, hukum-hukum, prinsip-prinsip, teori-teori, dan hipotesa.
Definisi IPA yang paling sederhana adalah apa yang dilakukan oleh para ahli
IPA.
Dari penjelasan di atas dapat
dikemukakan bahwa IPA pada hakikatnya meliputi IPA produk, IPA proses, dan IPA
sikap ilmiah yang tak dapat dipisahkan satu dengan lainnya.
a.
IPA sebagai produk
IPA sebagai disiplin ilmu disebut
produk IPA karena isinya merupakan kumpulan hasil kegiatan empirik dan kegiatan
analitik yang dilakukan oleh para ilmuan selama berabad-abad. Bentuk IPA
sebagai produk adalah fakta, konsep, prinsip, hukum, dan teori IPA. Jika
ditelaah lebih lanjut, fakta-fakta merupakan hasil kegiatan empirik dalam IPA,
sedangkan konsep, prinsip, hukum, dan teori-teori dalam IPA merupakan hasil
kegiatan analitik.
Fakta dalam IPA adalah
pernyataan-pernyataan tentang benda yang benar ada, atau peristiwa-peristiwa
yang betul-betul terjadi dan sudah dikonfirmasikan secara obyektif. Fakta
adalah bentuk informasi yang spesifik yang harus diingat oleh siswa termasuk di
dalamnya nama orang, waktu kejadian. Contoh fakta: merkuri adalah planet
terdekat dengan matahari; ular tergolong reptilian; air membeku pada suhu nol
derajat celcius. Contoh konsep IPA: semua zat tersusun atas partikel-partikel;
makhluk hidup dipengaruhi oleh lingkungan.
Konsep IPA adalah suatu ide yang
mempersatukan fakta-fakta IPA yang saling berhubungan. Konsep adalah suatu
kosakata khusus yang dipelajari siswa, sehingga diharapkan dapat menjelaskan
konsep yang dipelajari, mengenal ilustrasi konsep, kesamaan suatu konsep, dan
mengetahui penggunaan konsep itu benar atau salah. Konsep dianggap telah
dipelajari jika seseorang dapat memberikan tanggapan terhadap pertanyaan atau
rangsangan yang bervariasi pada kelompok atau kategori yang sama. Contoh konsep IPA: Semua zat tersusun atas
partikel-partikel ; makhluk hidup dipengaruhi oleh lingkungan.
Prinsip IPA adalah generalisasi tentang
hubungan di antara konsep-konsep IPA. Prinsip merupakan kumpulan sejumlah besar
fakta atau menjelaskan saling keterhubungan sejumlah fakta. Contohnya: Udara
yang dipanaskan memuai, adalah prinsip yang menghubungkan konsep-konsep udara,
panas, dan pemuaian. Prinsip ini menyatakan jika udara dipanaskan akan memuai.
Prinsip IPA bersifat analitik sebab merupakan generalisasi induktif yang
ditarik dari beberapa contoh. Menurut para ilmuan prinsip merupakan deskripsi
yang paling tepat tentang obyek atau kejadian. Prinsip dapat berubah bila
observasi baru dilakukan, sebab prinsip bersifat tentatif.
Hukum alam adalah prinsip yang sudah
diterima kebenarannya yang meskipun sifatnya tentatif tetapi mempunyai daya uji
yang kuat sehingga dapat bertahan dalam waktu yang relatif lama. Hukum
kekekalan energi berbunyi bahwa dalam suatu interaksi tidak ada energi yang
diciptakan maupun dimusnahkan, tetapi hanya berubah dari suatu bentuk ke bentuk
lain. Namun Einstein kemudian menunjukkan bahwa energi dapat diciptakan dari
materi di bawah kondisi khusus, pernyataan ini menyebabkan hukum kekekalan
energi harus diperluas.
Teori ilmiah adalah kerangka hubungan
yang lebih luas antara fakta-fakta, konsep, prinsip, dan hukum. Sehingga
merupakan model atau gambaran yang dibuat para ilmuan untuk menjelaskan gejala
alam. Teoripun dapat berubah jika ada bukti baru yang bertentangan dengan teori
tersebut. Contoh: Teori geosantrik alam semesta sekarang hanya merupakan bagian
dari sejarah dan tidak berlaku lagi. Teori ilmiah memberi bantuan untuk
memahami, memprediksi, dan kadang-kadang mengendalikan berbagai gejala
alam.
b.
IPA sebagai proses
Memahami IPA bukan hanya memahami
fakta-fakta dalam IPA. Memahami IPA berarti juga memahami proses IPA yaitu
memahami bagaimana mengumpulkan fakta dan memahami bagaimana menghubungkan
fakta untuk menginterpretasikannya. Para ilmuan mempergunakan berbagai prosedur
empirik dan prosedur analitik dalam usaha untuk memahami alam semesta ini. Prosedur-prosedur tersebut disebut proses ilmiah atau proses sains.
Keterampilan proses IPA disebut juga keterampilan belajar seumur hidup. Sebab
keterampilan ini dapat juga dipakai di bidang lain dalam kehidupan sehari-hari.
Keterampilan proses IPA adalah
keterampilan yang dilakukan oleh para ilmuan, di antaranya adalah: Mengamati,
mengukur, menarik kesimpulan, mengendalikan variabel, merumuskan hipotesa,
membuat grafik, membuat table data, membuat definisi operasional, dan melakukan
eksperimen.
c.
IPA sebagai sikap ilmiah
Definisi IPA adalah apa yang dilakukan
para ahli IPA, kedengarannya sangat sederhana, namun banyak kebenaran yang
terkandung di dalamnya. Pertama-tama yang dilakukan ilmuan adalah menaruh
perhatian, mengamati peristiwa alam, dan selalu ingin mengetahui. Apa,
bagaimana, dan mengapa tentang peristiwa-peristiwa alam. Dan itu menjadi
masalah baginya. Seorang ilmuan menggunakan cara khusus untuk memecahkan
masalah yang dihadapinya. Cara itu dinamakan “Metode Ilmiah” yang secara garis
besar terdiri dari dua kegiatan utama yaitu observasi dan eksperimen.
Dalam memecahkan masalah seorang ilmuan
bersikap ilmiah yaitu berusaha mengambil sikap tertentu yang memungkinkan untuk
mencapai hasil yang diharapkan. Sikap yang dimaksud antara lain: 1) obyektif
terhadap fakta, 2) tidak tergesa-gesa mengambil kesimpulan bila belum cukup
data yang mendukung, 3) berhati terbuka, 4) tidak mencampuradukan fakta dengan
pendapat, 5) bersifat hati-hati, dan 6) ingin menyelidiki.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar