Pages

Kamis, 11 Desember 2014

TUGAS PAK UDIN



MASJID AGUNG DEMAK
Masjid ini tertua di pulau jawa, ciptaan wali yang dikeramatkan. Menjadi cikal bakal berdirinya kerajaan islam, sebagai cagar budaya peninggalan Kesultanan Glagahwangi Bintoro Demak. Struktur bangunan masjid, mempunyai nilai historis seni bangunan arsitektur tradisional khas Indonesia. Wujudnya misterius, karismatik, akan tetapi megah, anggun, indah, mempesona dan berwibawa. Mencerminkan filosofi tingkat kehidupan manusia dalam hubungan dengan ALLAH SWT. Penampilan atap limas piramida menunjukkan akidah islamiyah yaitu : (1) iman; (2) islam; (3) ihsan. Lokasi masjid ada dipusat “Kota Wali” Kabupaten Demak, berjarak ±26km arah timur dari Ibukota Propinsi Jawa Tengah di Semarang, atau ±25km arah barat dari “Kota Kretek” Kabupaten Kudus dan ±35km arah selatan dari “Kota Ukir” Kabupaten Jepara.

PENINGGALAN - PENINGGALAN SEJARAH  

  1.    Soko Majapahit
Delapan buah soko guru serambi Masjid Agung Demak ini adalah benda purbakala asal Kerajaan Majapahit, konon hadiah dari Prabu Brawijaya V Raden Kertabumi, ayahanda R. Hasan, Raden Fatah, sebagai Adipati Noto Projo di Glagahwangi Bintoro, Demak 1475. Selanjutnya para Waliyullah menobatkan menjadi Raja Islam atau Sultan Bintoro di Demak, dengan Gelar Sultan Syah Alam Akbar Al Fatah Panatogomo 1478 – 1518 M yang oleh masyarakat dikenal dengan sebutan Raden Fatah. 
2.  Pawestren


Bangunan yang khusus dibuat untuk sholat jamaah wanita ini dinamakan Pawestren, konstruksi kayu jati, bentuk dan atap limasan sirap kayu jati, jumlah tiang penyangga 8 buah dimana 4 batang tiang utama ditopang belandar balok susun tiga yang diukir motif Majapahit. Luas lantai yang bermanfaat untuk sholat membujur kiblat berukuran 15x7,30 m. bila dilihat bentuk dan motif ukiran Maksuroh/Kholwat tahun 1866 M Pawestren mungkin dibuat pada zamannya K.R. M.A. Arya Purbaningrat.

3.     Surya Majapahit
Hiasan segi 8 ini sangat popular pada masa Kerajaan Majapahit, sehingga para ahli purbakala menafsirkan sebagai lambing Kerajaan Majapahit yang dinamakan Surya Majapahit. Masjid Demak yang diyakini berdiri tahun 1401 S/1479 M, terdapat beberapa hiasan surya majapahit, hal itu mungkin karena Raden Fatah merupakan darah keturunan dari Majapahit. Makam Jumadil Kubro (guru besar para wali) di Troloyo terdapat tulisan Jawa Kuno angka tahun 1376 – 1611 M, terletak didalam situs Trowulan bekas Kerajaan Majapahit di Mojokerto Jatim. Batu nisannya juga terdapat hiasan surya majapahit, bahkan disertai tulisan arab yang memuat surat Ali Imron ayat 18 dan 185 serta kalimah Syahadat. Inti tulisan tersebut adalah mengakui keesaan Allah SWT yang bersifat kekal. Hal itu mengidentifikasikan telah ada penduduk/bangsawan beragama islam hidup berdampingan dengan pemeluk agama lainnya yaitu Hindhu – Budha pada zaman nenek moyang kita.

4.     Museum
     Museum Masjid Agung Demak meski bangunannya kurang representative, akan tetapi tersimpan benda arkeologi sebagai bukti khasanah budaya zaman “Wali Songo” yang mempunyai nilai historis perkembangan islam secara nasional pada umumnya dan di Demak pada khususnya. Di museum ini bisa disaksikan guci hadiah Putri Campan dari dinasti Ming abad XIV, kentongan dan bedug wali abad XV, Pintu bledeg ciptaan Ki Ageng Selo dan benda-benda purbakal lainnya, prasasti, gambar-gambar seperti Dampar Kencana, Maksuroh, surya majapahit yang aslinya masih bisa dilihat di dalam masjid yang monumental peninggalan Kesultanan Glagahwangi Bintoro Demak dari tahun 1478-560 M di bawah Pemerintahan Raden Fatah – Patiunus – Trenggono.
5.     Pintu Bledeg
Pintu bledeg ini ciptaan Ki Ageng Selo pada zaman wali, konon beliau yang memiliki kesaktian itu dapat menangkap petir, kemudian daun pintu daun pintu yang terletak di tengah masjid itu orang menamakan “Pintu Bledeg”. Sesungguhnya prasasti ini merupakan Condro Sengkolo yang berbunyi Nogo Mulat Saliro Wani, bermakna tahun 1388 saka atau 1466 Masehi atau 887 Hijriyah, yang diprediksikan sebagai tanda perletakan batu pertama pembangunan masjid.




6.     Mihrab.
Gambar ini memperlihatkan tempat pengimaman, dimana didalamnya terdapat hiasan seperti gambar Bulus merupakan prasasti yang diartikan sebagai Condro Sengkolo maksudnya Sariro Sunyi Kiblating Gusti, bermakna tahun 1401 atau 1479 M. di depan mihrab sebelah kanan terdapat mimbar untuk khotbah, konon benda arkeologi itu disebut Dampar Kencono warisan dari Majapahit. Yang ada di sebelah kiri atau bangunan kayu berukir dinamakan Maksurah yaitu tempat untuk mujahadah Adipati tempo dulu. Pada dinding tembok Mihrab juga terdapat ornament illahiyah, keramik Annam dari Campa, Logo Surya Majapahit dan lain-lain.
7.     Soko Tatal atau Soko Guru
Yang tampak pada gambar adalah 4 soko guru/tiang utama konstruksi penyangga kerangka dan atap masjid susun tiga, masing-masing sokoguru tingginya 16m lebih. Empat tiang uatam menggambarkan, betapa para wali menerima agama islam bersumber dari ajaran Syafi’iyah, sebagai implementasinya iman, islam dan ihsan guna landasan karakter umat dan bangsa. Formasi tata letak 4 soko guru : yang ada di barat laut didirikan oleh Sunan Bonang-Tuban, di barat daya dari Sunan Gunung Jati-Cirebon, di bagian Tenggara oleh Sunan Ampel Surabaya, dan di timur laut dari Sunan Kalijaga-Kadilangu Demak, masyarakat menamakan sebagai Soko Tatal.



8.     Dampar Kencana
Dampar kencana adalah benda arkeologi peninggalan Majapahit abad XV. Konon ini hadiah untuk R. Fatah – Sultan Demak ke I dari ayahanda Prabu Brawijaya ke V. Semenjak tahta Kesultanan Demak dipimpin R.Trenggono, secara universal wilayah Nusantara Indonesia menyatu dan termasyur, ibarat mengulang kejayaan zaman Patih Gajah Mada Syahdan R. Fatahillah Khan, yang lama tinggal berguru ngaji dinegeri Makkah al Mukaromah serta Madinah, adalah putra mahkota darah keturunan Sultan Samudra Pasai di ujung utara Pulau Sumatra itu menjadi menantu R. Fatah, Syarif Hidayatullah, Sunan Gunung Jati Cirebon ini, sosok seorang muslim yang arif lagi bijaksana serta santun bersahaja, sangat dipercaya Sultan Trenggono. Menjadi Ustads hafid Al-Qur’an yang pintar, mufti yang soleh, imam masjid demak yang khusuk, juga menjadi Panglima Senopati Perang yang berhasil menggilas bala tentara penjajah portugis di bumi banten 1562 M dan menyatudamaikan Kerajaan Pasundan dan Parahiyangan yang rapuh.
Konon Senopati Kasultanan Demak ini juga menggempur total pertahanan Portugis di Jayakarta dan mengganti nama menjadi Jakarta. Akhirnya sejarah mengukir Jayakarta yang kemudian menjadi Ibukota Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dalam rangka perluasan dan renovasi Masjid Demak, atas saran R.Fatahillah Khan kepada Sultan Demak ke III/R. Trenggono, maka pendopo dan dampar kencono dari Majapahit itu dialih fungsikan menjadi serambi Masjid dan Menjadi mimbar khotbah di Masjid Agung Demak sampai saat ini.






9.     Menara Azan
Menara azan ini dibangun dengan konstruksi baja, untuk memenuhi tuntutan modernisasi era abad XX yang diprakarsai para ulama yaitu K.H. Abdoerrohman (penghulu masjid demak), R. Danoewijoto, H. Moh Taslim, H. Aboebakar, H. Moechsin, pada 2 agustus 1932 yang secara teknis disetujui Direktur R.W/Kepala DPUK W. Coenraad dan Bupati Demak R.A.A Sosrohadiwidjojo dengan biaya sebesar f 10.000 gulden. Tujuan mendirikan menara ini adalah sebagai sarana bagi muazin untuk mengumandangkan azan diatas menara yang tingginya ±22m, agar para zairin dan zairot segera bergegas ke masjid untuk menunaikan ibadah sholat berjamaah. Pada zaman itu pengeras suara belum ada, bahkan listrik pun belum ada di Demak.
10.  Maksurah.
Artefak bangunan berukir peninggalan sejarah masa lalu ini dinamakan Maksurah atau Kholwat, memiliki nilai dan bangunan estetika yang unik dan indah, sehinggan relatif mendominasi keindahan di ruang dalam masjid. Maksurah ini dipergunakan oleh penguasa dalam menunaikan sholat dan munajat untuk memperoleh barokah, rahmat dan hidayat Allah SWT. Di luar maupun di dalam artefak terdapat tulisan berukir dengan bahasa dan huruf arab yang intinya memulyakan keesaan Tuhan. Prasasti didalam maksurah menyebut angka tahun 1287 H identik 1866 M, yang saat itu Adipati Demak dijabat K.R.M.A Aryo Prubaningrat.