MASJID AGUNG
DEMAK
Masjid ini tertua di pulau jawa, ciptaan wali yang
dikeramatkan. Menjadi cikal bakal berdirinya kerajaan islam, sebagai cagar
budaya peninggalan Kesultanan Glagahwangi Bintoro Demak. Struktur bangunan
masjid, mempunyai nilai historis seni bangunan arsitektur tradisional khas
Indonesia. Wujudnya misterius, karismatik, akan tetapi megah, anggun, indah,
mempesona dan berwibawa. Mencerminkan filosofi tingkat kehidupan manusia dalam
hubungan dengan ALLAH SWT. Penampilan atap limas piramida menunjukkan akidah
islamiyah yaitu : (1) iman; (2) islam; (3) ihsan. Lokasi masjid ada dipusat
“Kota Wali” Kabupaten Demak, berjarak ±26km arah timur dari Ibukota Propinsi
Jawa Tengah di Semarang, atau ±25km arah barat dari “Kota Kretek” Kabupaten
Kudus dan ±35km arah selatan dari “Kota Ukir” Kabupaten Jepara.
PENINGGALAN -
PENINGGALAN SEJARAH
- Soko Majapahit
Delapan
buah soko guru serambi Masjid Agung Demak ini adalah benda purbakala asal
Kerajaan Majapahit, konon hadiah dari Prabu Brawijaya V Raden Kertabumi,
ayahanda R. Hasan, Raden Fatah, sebagai Adipati Noto Projo di Glagahwangi
Bintoro, Demak 1475. Selanjutnya para Waliyullah menobatkan menjadi Raja Islam
atau Sultan Bintoro di Demak, dengan Gelar Sultan Syah Alam Akbar Al Fatah
Panatogomo 1478 – 1518 M yang oleh masyarakat dikenal dengan sebutan Raden
Fatah.
2. Pawestren
Bangunan yang khusus dibuat untuk sholat jamaah
wanita ini dinamakan Pawestren, konstruksi kayu jati, bentuk dan atap limasan
sirap kayu jati, jumlah tiang penyangga 8 buah dimana 4 batang tiang utama
ditopang belandar balok susun tiga yang diukir motif Majapahit. Luas lantai
yang bermanfaat untuk sholat membujur kiblat berukuran 15x7,30 m. bila dilihat
bentuk dan motif ukiran Maksuroh/Kholwat tahun 1866 M Pawestren mungkin dibuat
pada zamannya K.R. M.A. Arya Purbaningrat.
3.
Surya Majapahit
Hiasan segi 8 ini sangat popular pada masa Kerajaan
Majapahit, sehingga para ahli purbakala menafsirkan sebagai lambing Kerajaan
Majapahit yang dinamakan Surya Majapahit. Masjid Demak yang diyakini berdiri
tahun 1401 S/1479 M, terdapat beberapa hiasan surya majapahit, hal itu mungkin
karena Raden Fatah merupakan darah keturunan dari Majapahit. Makam Jumadil
Kubro (guru besar para wali) di Troloyo terdapat tulisan Jawa Kuno angka tahun
1376 – 1611 M, terletak didalam situs Trowulan bekas Kerajaan Majapahit di
Mojokerto Jatim. Batu nisannya juga terdapat hiasan surya majapahit, bahkan
disertai tulisan arab yang memuat surat Ali Imron ayat 18 dan 185 serta kalimah
Syahadat. Inti tulisan tersebut adalah mengakui keesaan Allah SWT yang bersifat
kekal. Hal itu mengidentifikasikan telah ada penduduk/bangsawan beragama islam
hidup berdampingan dengan pemeluk agama lainnya yaitu Hindhu – Budha pada zaman
nenek moyang kita.
4. Museum
Museum Masjid Agung Demak meski
bangunannya kurang representative, akan tetapi tersimpan benda arkeologi
sebagai bukti khasanah budaya zaman “Wali Songo” yang mempunyai nilai historis
perkembangan islam secara nasional pada umumnya dan di Demak pada khususnya. Di
museum ini bisa disaksikan guci hadiah Putri Campan dari dinasti Ming abad XIV,
kentongan dan bedug wali abad XV, Pintu bledeg ciptaan Ki Ageng Selo dan
benda-benda purbakal lainnya, prasasti, gambar-gambar seperti Dampar Kencana,
Maksuroh, surya majapahit yang aslinya masih bisa dilihat di dalam masjid yang
monumental peninggalan Kesultanan Glagahwangi Bintoro Demak dari tahun 1478-560
M di bawah Pemerintahan Raden Fatah – Patiunus – Trenggono.
5.
Pintu Bledeg
Pintu bledeg ini ciptaan Ki Ageng Selo pada zaman
wali, konon beliau yang memiliki kesaktian itu dapat menangkap petir, kemudian
daun pintu daun pintu yang terletak di tengah masjid itu orang menamakan “Pintu
Bledeg”. Sesungguhnya prasasti ini merupakan Condro Sengkolo yang berbunyi Nogo
Mulat Saliro Wani, bermakna tahun 1388 saka atau 1466 Masehi atau 887 Hijriyah,
yang diprediksikan sebagai tanda perletakan batu pertama pembangunan masjid.
6.
Mihrab.
Gambar ini memperlihatkan tempat pengimaman, dimana
didalamnya terdapat hiasan seperti gambar Bulus merupakan prasasti yang diartikan
sebagai Condro Sengkolo maksudnya Sariro Sunyi Kiblating Gusti, bermakna tahun
1401 atau 1479 M. di depan mihrab sebelah kanan terdapat mimbar untuk khotbah,
konon benda arkeologi itu disebut Dampar Kencono warisan dari Majapahit. Yang
ada di sebelah kiri atau bangunan kayu berukir dinamakan Maksurah yaitu tempat
untuk mujahadah Adipati tempo dulu. Pada dinding tembok Mihrab juga terdapat
ornament illahiyah, keramik Annam dari Campa, Logo Surya Majapahit dan
lain-lain.
7. Soko Tatal atau Soko Guru
Yang tampak pada
gambar adalah 4 soko guru/tiang utama konstruksi penyangga kerangka dan atap
masjid susun tiga, masing-masing sokoguru tingginya 16m lebih. Empat tiang
uatam menggambarkan, betapa para wali menerima agama islam bersumber dari
ajaran Syafi’iyah, sebagai implementasinya iman, islam dan ihsan guna landasan
karakter umat dan bangsa. Formasi tata letak 4 soko guru : yang ada di barat
laut didirikan oleh Sunan Bonang-Tuban, di barat daya dari Sunan Gunung
Jati-Cirebon, di bagian Tenggara oleh Sunan Ampel Surabaya, dan di timur laut
dari Sunan Kalijaga-Kadilangu Demak, masyarakat menamakan sebagai Soko Tatal.
8.
Dampar Kencana
Dampar kencana adalah benda arkeologi peninggalan
Majapahit abad XV. Konon ini hadiah untuk R. Fatah – Sultan Demak ke I dari ayahanda
Prabu Brawijaya ke V. Semenjak tahta Kesultanan Demak dipimpin R.Trenggono,
secara universal wilayah Nusantara Indonesia menyatu dan termasyur, ibarat
mengulang kejayaan zaman Patih Gajah Mada Syahdan R. Fatahillah Khan, yang lama
tinggal berguru ngaji dinegeri Makkah al Mukaromah serta Madinah, adalah putra
mahkota darah keturunan Sultan Samudra Pasai di ujung utara Pulau Sumatra itu
menjadi menantu R. Fatah, Syarif Hidayatullah, Sunan Gunung Jati Cirebon ini,
sosok seorang muslim yang arif lagi bijaksana serta santun bersahaja, sangat
dipercaya Sultan Trenggono. Menjadi Ustads hafid Al-Qur’an yang pintar, mufti
yang soleh, imam masjid demak yang khusuk, juga menjadi Panglima Senopati
Perang yang berhasil menggilas bala tentara penjajah portugis di bumi banten
1562 M dan menyatudamaikan Kerajaan Pasundan dan Parahiyangan yang rapuh.
Konon Senopati Kasultanan Demak ini juga menggempur
total pertahanan Portugis di Jayakarta dan mengganti nama menjadi Jakarta.
Akhirnya sejarah mengukir Jayakarta yang kemudian menjadi Ibukota Negara
Kesatuan Republik Indonesia. Dalam rangka perluasan dan renovasi Masjid Demak,
atas saran R.Fatahillah Khan kepada Sultan Demak ke III/R. Trenggono, maka
pendopo dan dampar kencono dari Majapahit itu dialih fungsikan menjadi serambi
Masjid dan Menjadi mimbar khotbah di Masjid Agung Demak sampai saat ini.
9.
Menara Azan
Menara azan ini dibangun dengan konstruksi baja,
untuk memenuhi tuntutan modernisasi era abad XX yang diprakarsai para ulama
yaitu K.H. Abdoerrohman (penghulu masjid demak), R. Danoewijoto, H. Moh Taslim,
H. Aboebakar, H. Moechsin, pada 2 agustus 1932 yang secara teknis disetujui
Direktur R.W/Kepala DPUK W. Coenraad dan Bupati Demak R.A.A Sosrohadiwidjojo
dengan biaya sebesar f 10.000 gulden. Tujuan mendirikan menara ini adalah
sebagai sarana bagi muazin untuk mengumandangkan azan diatas menara yang
tingginya ±22m, agar para zairin dan zairot segera bergegas ke masjid untuk
menunaikan ibadah sholat berjamaah. Pada zaman itu pengeras suara belum ada,
bahkan listrik pun belum ada di Demak.
10. Maksurah.
Artefak bangunan berukir
peninggalan sejarah masa lalu ini dinamakan Maksurah atau Kholwat, memiliki
nilai dan bangunan estetika yang unik dan indah, sehinggan relatif mendominasi
keindahan di ruang dalam masjid. Maksurah ini dipergunakan oleh penguasa dalam
menunaikan sholat dan munajat untuk memperoleh barokah, rahmat dan hidayat
Allah SWT. Di luar maupun di dalam artefak terdapat tulisan berukir dengan
bahasa dan huruf arab yang intinya memulyakan keesaan Tuhan. Prasasti didalam
maksurah menyebut angka tahun 1287 H identik 1866 M, yang saat itu Adipati
Demak dijabat K.R.M.A Aryo Prubaningrat.