Saya telah lama terjebak dalam dunia ‘kanan’, berperan sebagai anak yang baik-baik saja. Saat tumbuh menjadi seorang anak kecil di desa yang letaknya bahkan tak tercatat di peta nasional, ukuran kebaikan seorang anak di desa saya sangatlah sederhana. Kalau sisiran rambut saya rapi, dibelah samping dan licin mengkilat oleh minyak kelapa lalu baju dimasukkan rapi, meskipun tidak sedang sekolah, maka saya sudah layak disebut anak baik. Jika saya menyapa orang yang saya temui di jalan dan menyalami mereka yang mampir ke rumah, maka saya sudah layak disebut anak teladan. Jika saya bertamu ke rumah orang atau berkunjung ke tempat-tempat umum (termasuk rumah sakit) dan menaggalkan sendal jepit lusuh saya lalu bertelanjang kaki menapaki lantai, maka saya sudah bisa disebut disiplin. Begitulan ukuran kebaikan dan keteladanan seorang anak kecil yang tumbuh di Desa Tegaljadi di tahun 1980an.
Anak baik seperti saya tidak memotong pembicaraan orang, tidak menentang orang tua, tidak main musik alternatif, tidak merokok, tidak juga suka pulang malam. Semua tenang, semua mengalir sesuai norma yang entah kapan ditetapkan. Lingkungan saya tidak menerima saya berambut panjang dan mengenakan anting, apalagi ditato.
Di sekolah, saya juga baik-baik saja. Yang jelas tidak ada orang yang mengharapkan saya menjadi seorang musisi yang memukau cewek-cewek saat pentas di Malam Kreativitas sekolah. Tidak juga ada yang mengharapkan saya tampil kocak di panggung layaknya pelawak. Saya diwajibkan (oleh orang lain yang berucap lewat perasaan saya) untuk tampil tenang dan jaga citra. Kalau ada yang memperhatikan saya, sebaiknya bukan karena saya tampil memalukan tetapi karena terpesona mendengar pidato saya yang inspiratif. Kalaupun ada yang tertawa, itu bukan karena melihat saya bagai badut, tetapi karena lelucon cerdas kelas tinggi yang hanya dimengerti oleh kaum berilmu. Begitulah lingkungan membersarkan diri saya.
Diam-diam, di sela kekakuan sikap saya yang mencoba menyenangkan lingkungan, saya juga belajar menikmati diri sendiri. Di tahun 1995, saya belajar Moon Walk, gerakan ala Michael Jackson yang ditampilkan untuk pertama kali saat konser 25 tahun mot0wn. Billie Jane adalah lagunya. Saat belajar Moon Walk ini, tidak ada sedikitpun keinginan untuk menampilkannya di depan umum. Saya tetaplah seorang anak yang baik-baik saja yang tidak boleh tampil urakan. Alangkah membosankannya seorang saya. Boring, kata anak muda jaman sekarang.
Beberapa waktu lalu, saya mengikuti sebuah lokakarya yang dihadiri (katanya) pemimpin masa depan di Asia Tenggara. Entah apa pasalnya, seorang saya bisa terselip di antara orang-orang itu. Mungkin ini yang namanya keberuntungan.
Singkat cerita, ada kewajiban untuk menampilkan sebuah pementasan. Saya didaulat menjadi Michael Jackson dan meniru gayanya yang menyanyikan Billie Jane. Tentu saja Moon Walkharus diperagakan. Anehnya, saya pun meng-iya-kan, sesuatu yang bahkan tidak pernah saya impikan ketika mempelajari Moon Walk pertama kali. Kali ini saya tersihir oleh kata-kata para motivator “mencoba sesuatu yang baru”.
Menyetujui sesuatu yang sulit dilakukan ternyata menjadi motivasi tersendiri. Saya tentu saja tidak ingin mengecewakan mereka yang mempercayai saya, sekaligus yang terpenting, tidak ingin mengecewakan diri sendiri. Saya pun berlatih setiap malam hingga jam 2 pagi. Teman kecil saya, sahabat di SMA, kawan kuliah atau bahkan mahasiswa saya tentu tidak akan percaya, seorang Andi berlatih tarian ala Michael Jackson di sebuah villa sepi di Kangaroo Valley hingga jam 2 pagi adalah sesuatu yang tidak mungkin terjadi.
Malam bersejarah itupun terjadilah. Tentu saya tidak tampil sempurna tetapi teriakan histeris para penonton itu membuat saya jadi gila. Mungkin saya tidak menjadi orang lain dengan menampilkan Moon Walk mengelilingi api unggun di tengah teriakan para penonton tetapi justru menjadi diri sendiri dengan sisi-sisi karakter yang terlalu lama dipendam. Ya demikianlah yang mungkin terjadi.
Satu pelajaran penting yang saya ambil: jangan berhenti menggali diri sendiri. Hal-hal memalukan juga bisa menjadi sifat kita, waspadalah!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar